Wamendiktisaintek RI; Mahasiswa Harus Berproses, Berorganisasi, dan Membangun Value
SINJAI – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. Dihadapan ratusan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSi) Tahun Akademik 2026/2027, Senin (14/9/2026), di Auditorium UMSi Maraja Convention Center (UMCC). Menyampaikan penekanan pentingnya transformasi karakter dan mental bagi mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSi). Menurutnya, memasuki perguruan tinggi tidak cukup dimaknai sebagai perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa, tetapi harus diikuti perubahan cara berpikir, sikap, dan tanggung jawab.
Hal tersebut disampaikan Prof. Fauzan saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru UMSi dalam rangkaian Masa Ta'aruf Studi (Mastasi) Akademik dan Lembaga Kemahasiswaan Tahun Akademik 2026/2027.
Prof. Fauzan mengatakan, keputusan mahasiswa memilih melanjutkan pendidikan di UMSi merupakan bagian dari proses merintis kehidupan. Karena itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa identitas sebagai mahasiswa harus tercermin melalui mentalitas dan perilaku, bukan sekadar status akademik.
“Saudara sekarang berada pada masa peralihan dari siswa menjadi mahasiswa. Bukan hanya gelar mahasiswa yang berubah, tetapi mental saudara harus menunjukkan identitas sebagai seorang mahasiswa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak hanya mengejar pencapaian akademik dan akreditasi perguruan tinggi. Menurutnya, predikat unggul harus tercermin pula dalam pengakuan dan kebermanfaatan perguruan tinggi di tengah masyarakat.
“Akreditasi unggul harus dikejar, tetapi apakah akreditasi di masyarakat juga unggul? Ini yang harus diseimbangkan,” katanya.
Menurut Prof. Fauzan, perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai institusi yang berorientasi pada capaian internal. Pendidikan harus mampu menjangkau persoalan nyata masyarakat dan menghasilkan lulusan yang memiliki kontribusi sosial.
Ia menilai perguruan tinggi perlu keluar dari paradigma menara gading dengan menghadirkan pendidikan yang menyentuh lini kehidupan masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari indikator akademik, tetapi juga dari seberapa jauh ilmu pengetahuan memberikan dampak bagi lingkungan sosial.
Dalam konteks tersebut, Prof. Fauzan mendorong mahasiswa untuk memiliki keberanian berinovasi. Ia mengingatkan agar generasi muda tidak hanya menjadi bangsa yang mengejar atau mengikuti perkembangan yang sudah ada, tetapi mampu menciptakan sesuatu yang baru.
“Berpikir nol menuju satu membutuhkan inovasi,” tegasnya.
Dosen dan Kampus Harus Hadir bagi Mahasiswa
Prof. Fauzan juga menyoroti peran dosen dalam membentuk perjalanan akademik mahasiswa. Menurutnya, dosen tidak hanya bertugas menyampaikan materi perkuliahan, tetapi juga memiliki tanggung jawab memberikan pendampingan terbaik kepada mahasiswa.
Ia menegaskan bahwa dosen harus mampu menyelesaikan persoalan dirinya sendiri sehingga dapat memberikan layanan akademik secara optimal.
“Dosen harus memberikan pendampingan terbaik kepada mahasiswa. Dosen harus selesai dengan dirinya sendiri. Layanan mahasiswa tidak boleh ditunda,” ujarnya.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum dan fasilitas, tetapi juga pada kualitas interaksi antara dosen dan mahasiswa. Kampus, kata dia, harus menjadi ruang yang mendorong mahasiswa untuk berkembang secara akademik sekaligus membangun karakter.
Mahasiswa Diminta Tidak Bermental Mengeluh
Di hadapan mahasiswa baru UMSi, Prof. Fauzan juga mengingatkan tentang persoalan mentalitas generasi muda. Ia mengatakan bahwa kemiskinan tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi ekonomi, tetapi juga dapat terjadi dalam bentuk kemiskinan mental.
Karena itu, mahasiswa baru UMSi diminta tidak membangun kebiasaan mengeluh dan mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
“Jangan bermental miskin. Jangan bermental mengeluh. Teruslah berproses,” pesannya.
Menurutnya, proses pendidikan memang tidak selalu menghadirkan pengalaman yang mudah dan menyenangkan. Namun, proses yang dijalani secara konsisten dapat membentuk kebiasaan positif yang pada akhirnya meningkatkan kapasitas dan kualitas diri mahasiswa.
Organisasi sebagai Ruang Pembentukan Karakter
Selain akademik, Prof. Fauzan mendorong mahasiswa baru untuk aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, pengalaman berorganisasi menjadi salah satu ruang penting untuk membangun ketahanan mental, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, dan kemampuan menghadapi dinamika kehidupan.
Ia mendorong mahasiswa untuk memilih dan mengikuti organisasi yang tersedia di lingkungan UMSi sesuai dengan minat dan potensinya.
“Saudara harus berorganisasi. Itu penting dalam lini kehidupan. Ketahanan mental salah satunya dibangun melalui organisasi,” katanya.
Bagi Prof. Fauzan, perguruan tinggi seharusnya tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga individu yang memiliki value, karakter, dan kesiapan menghadapi kehidupan sosial.
Dari Kepompong Menjadi Kupu-Kupu
Prof. Fauzan kemudian mengibaratkan mahasiswa sebagai kepompong yang sedang menjalani proses transformasi. Masa perkuliahan merupakan ruang pembentukan sebelum mahasiswa nantinya keluar sebagai pribadi yang memiliki kompetensi dan nilai.
“Saudara sebagai mahasiswa ibarat kepompong. Akhirnya nanti bisa menjadi kupu-kupu, punya value dan nilai-nilai,” tuturnya.
Ia mengingatkan mahasiswa bahwa keberadaan mereka di perguruan tinggi merupakan kesempatan untuk membangun nilai diri. Mahasiswa perlu belajar agar kehadirannya kelak memberikan kebanggaan dan manfaat bagi orang tua, masyarakat, dan bangsa.
“Saudara harus sadar, belum punya nilai untuk orang tua. Harus belajar untuk menjadi bernilai bagi kedua orang tua,” ujarnya.
Karena itu, transformasi dari sekolah menuju perguruan tinggi, menurutnya, tidak boleh hanya berupa perubahan fisik dan status pendidikan. Transformasi tersebut harus menyentuh karakter, pola pikir, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan mahasiswa dalam membangun masa depannya.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Fauzan juga menyampaikan apresiasi kepada salah satu mahasiswa baru UMSi dengan memberikan dukungan berupa pembebasan SPP selama satu semester.
Pesan kuliah umum tersebut menjadi penegasan bahwa perjalanan mahasiswa di perguruan tinggi bukan sekadar mengejar gelar akademik. Lebih dari itu, masa perkuliahan merupakan proses panjang untuk membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, ketahanan mental, kemampuan berorganisasi, serta nilai yang dapat dikontribusikan bagi masyarakat.